Postingan

Menampilkan postingan dengan label Short Story

Nana…Gue Nyesel.

“Nana . ” Begitulah suara yang keluar dari mulut cewe ramping itu, ketika gue menjabat tangannya. “Okto , ” gue bales. “Senang kenalan sama kamu , ” dia tersenyum . B ibirnya yang tipis melengkung keatas . D uuuh , manisnya! Brrrrr . “Heh! Udah , lepasin tangan , lo!” Arkan sohib gue sambil berbisik menegur . “Eh… i-…iya… iya… sama - sama , ” segera gue lepasin jabatan dari tangan halus cewek bernama Nana itu . “Emang terimakasih? Jawabnya sama-sama?” Arkan godain . Gue nyengir . “Nah… udah kenalan, kan? Gimana menurut kalian masing-masing? Apa ada posisi tawar? Kurang puas mungkin? Komplain?” Arkan yang sok jadi mak comblang bersuara renyah. “Udah ah. Kamu i n i …” Risa langsung menyela, “biarin mereka kenal lebih jauh dulu.” Risa pacarnya Arkan. “Duduk dulu,” Risa nyuruh kami buat duduk di meja kafe yang udah dipesan sebelumnya. Kami berempat duduk semeja, di meja berbentuk persegi panjang kecil. Gue berhadapan dengan cewe bernama Nana i tu, dan Arkan di...

LOST

Tok, tok, tok . . . . Tok, tok, tok . . . . Tok, tok, tok . . . . Pagi buta mataku terbuka karena pintu apartemen digedor berulangkali . Tok, tok, tok . . . ! Tok, tok, tok . . . ! Tok, tok, tok . . . ! Makin lama makin kencang. “Farri!” Tok, tok, tok . . . ! “Farri!” Tok, tok, tok . . . ! Diikuti teriakan perempuan berumur sekitar pertengahan 30-an dari balik pintu memanggil namaku . “Farri, aku tau kamu di dalam!” Tok, tok, tok . . . !

SEPENGGAL KISAH TENTANG LA (GADIS BERPONI)

“Aku kerumahmu besok,” kataku malam itu. La tak bersuara di seberang sana. Aku menunggu sahutannya. “Ya... boleh...” ucapnya lambat. Terdengar seperti berbisik menurutku. Walau begitu, aku cukup senang dia memberi ijin kepadaku untuk menemuinya. “Terima kasih... besok akan kukabari,” aku berkata lagi. “Sama-sama,” jawabnya pelan. Tut ... aku menutup panggilan yang sebenarnya membosankan itu. Hampir 2 jam kami berbicara, hanya aku yang mendominasi. Tetapi, sebagai seorang cowok, aku harus memimpin hubungan ini. Ya, kami harus memiliki kejelasan. Aku sudah mempersiapkan diri, untuk segala resiko yang akan terjadi besok, namun aku tetap berharap yang terbaik.

UNTUK HATI YANG MENANTI

“Setiap orang pernah mempunyai orang yang dia sayangi... Bukan keluarganya... Bukan sahabatnya... Tetapi dia orang yang menguasai hati, peras aan dan pikirannya... Dia adalah orang yang tersayang... ”

TENTANG FAI, TENTANG LAUT, Dan TENTANG AYUNDA

“Terkadang cinta itu hadir bukan tuk dimiliki… Tapi dititipkan dalam hati tuk dijaga…” - = Wawan Hendriadi = - Ssrraaaasszzzhhh…!! “Kamu gapapa?” suara kecil Ayunda menyentakku dari lamunan semu. Aku pandangi dia kemudian, agak lama. “Ya, aku gapapa kok…” aku sahut pertanyaannya dengan senyuman. Melihat senyumku wajah cemas Ayunda berubah sumringah. Telapak tangannya ia tangkupkan pada pundakku. Mengusap-usap lembut coba tuk menenangkan. Aku merasakan kehangatan mengalir dari tangannya, yang mampu menembus hoodie dan kaos yang kukenakan. Hingga menyentuh dan meresap ke dalam kulitku “Kamu kan cowok, kamu pasti kuat… jangan khawatir…” katanya. Aku mengangguk pelan membalas kata-katanya.

BUTIRAN-BUTIRAN CINTA UNTUK DIRA

Pagi Dira... Hari ini kurasakan kembali betapa indahnya pagi... Ya... ini semua karena kamu selalu mengisi kekosongan hatiku… Huaaahemm… aku bangkit dari tempat tidurku… aku terduduk… kepalaku masih terasa berat… kemudian aku tersenyum sendiri… ketika teringat tawa kecil Dira yang terdengar bak melodi indah di telingaku… ya… setiap aku terbangun dari tidurku… tawanya, senyumnya, cemberutnya, wajahnya… selalu terlukis indah… yang selalu menyambung mimpi indahku semalam… haaaah… Dira… aku rindu kamu… kapan ya kita bisa ketemu lagi…? Aku kangen banget… tapi kerjaku di kantor masih banyak… aku terlalu sibuk… kuharap kamu ga marah… mungkin nanti ketika aku senggang… kita akan bisa bertemu… hehehe…